Aku sekarang

                Sudah seperlima abad lebih aku hidup di dunia fana. Iya fana, karena kelak menurut kitabku akan ada dunia yang kekal. Seperlima abad yang aku lalui di dunia ini aku rasa sangat berkesan. Tentu kalian pun merasa demikian kan? Entah kejadian apa yang pernah menimpa kita masing-masing. Semua memiliki jalan cerita sendiri. Pun begitu aku, setelah menghabiskan 17 tahun di daerah yang manis aku harus pergi untuk mencari bentuk diri ke kota yang penuh kenangan. Sampai akhirnya aku selesai menempuh studi, dan kembali ke kota kelahiranku. kembali menetap di Bandung. Kota yang menjadi penaung bagi hati yang murung. Penuh senandung syahdu yang agung. 

                Aku sekarang sudah bukan tidak bisa lagi disebut sebagai anak kecil. Tentunya dengan usia yang telah melewati seperlima abad ada tuntutan untuk bersikap dewasa. Karena kelak, cepat atau lambat aku akan menjadi lelaki yang menjadi imam seorang wanita. Ya, setidaknya itu yang aku rencanakan. Entah jika Tuhan berkehendak lain. Tapi untuk sekarang aku senang hidup melajang. Tenggelam dalam kenangan dari seseorang yang sangat berkesan. Menikmati setiap inci hati, yang dulu saling mengasihi dan sekarang pun tak saling membenci.

                Ada ungkapan hidup akan selalu berputar. Kondisi manusia akan selalu berubah-ubah. Terkadanga bahagia, terkadang harus kecewa. Hari ini senang, esoknya bertegur sapa dengan lara. Tak ada yang menyangka kapan atmosfer hati manusia akan berubah. Sebulan lalu aku bersenang dan bangga dengan euforia pemindahan tali toga di kepala. Bulan ini ternyata aku harus menyelaraskan kebiasaan dengan rutinitas pencari kerja yang belum pasti.

                Tak berstatus dalam sebuah usaha atau instansi tentu menjadi sosok yang menghantui bagi para sarjana baru. Waktu-waktu yang biasanya dihabiskan menguap dalam kelas, sekarang bisa nyenyak di atas kasur. Satu dua hari seperti ini memang nyaman. Tapi jika lebih dari 48 jam seperti ini, akan menjadi penyakit hati. Karenanya aku memilih untuk memuaskan indera perasa ku. Melatihnya agar terbiasa menerima kepahitan. Karena aku yang sekarang telah candu akan kafein. Maka aku memaksa agar lidahku ikhlas menerima setiap mililiter kafein yang masuk. Harapanku dengan memaksa lidahku ikhlas, maka kelak dia akan menemukan keindahan pahitnya kafein. Sama seperti hatiku, aku paksa menerima pahitnya saat melihat fotomu. Agar kelak saat aku melihatmu bersanding dengan imam lain, hatiku terbiasa.

                Usia ku tentunya masih bisa dibilang muda, walau tak semuda dengan adik-adik berseragam abu yang sumringah masuk ke universitas impian. Banyak sekali hal yang belum aku coba, hal-hal yang masih terperangkap dalam imajiku saja. Hal-hal yang harus aku lakukan, setidaknya begitu menurutku. Aku rasa saat ini lawan terbesarku adalah nafsu dan rasa malasku sendiri. Terlalu bernafsu akan sebuah mimpi akan membutakan diri dari kebenaran. Sedangkan bermalas-malasan membuat terlena di dunia fana.

                Aku sekarang masih mencari bentuk, berusaha menjadikan kempompong jiwa ini terus bertumbuh. Agar kelak dapat melahirkan jiwa yang diterima Sang Illahi Rabbi. Jadi bagaimana kamu sekarang ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s